Pada tahun 2016, saya diundang ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Ada delapan cerpen yang saya ikutkan dalam festival internasional tersebut. Salah satunya berjudul Pabaruak, yang kemudian diterjemahkan Toni Pollard ke bahasa Inggris dengan judul ‘The Monkey Handler’. Terjemahannya bisa dibaca DI SINI >

the-monkey-handler
The Monkey Handler
Selain Pabaruak (The Monkey Handler), berikut 7 cerpen lainnya:
1. Berselimut Meja Makan

Atuk bekerja sebagai pemetik kelapa dengan menggunakan bantuan beruk. Sementara Kalaba, menantu barunya, bekerja sebagai penebang kayu. Suatu ketika, ada seorang tetangga yang meminta Atuk untuk memetikkan buah kelapa dari tandannya. Akan tetapi, tetangganya itu kembali membatalkan sesaat Atuk hendak berangkat. Tetangganya itu justu meminta Kalaba untuk menebang semua pohon kelapanya karena di samping memerlukan buahnya, ia juga membutuhkan batangnya yang akan diolah sebagai papan. Menyadari masa tuanya yang kian tak berguna, Atuk memegang dadanya sebelum jatuh.

Suatu malam, dari dalam bilik yang kelam, Atuk yang tak kunjung sembuh mendengar percakapan di meja makan. Dari meja makan, ia mendengar suara istri dan anak perempuannya yang selalu memenuhi kehendak Kalaba. Sebelum memejamkan matanya paksa, Atuk mendengar bujukan Kalaba yang hendak memindahkannya ke pondok di belakang rumah.

2. Ke Atas Tak Berpucuk, ke Bawah Tak Berurat

Sekelompok prajurit yang kehabisan bekal di tengah hutan. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan karena kehabisan bekal dan tak mau pulang karena takut dimarahi raja. Akhirnya, mereka memutuskan menetap di hutan dan memulai hidup baru sebagai orang rimba.

3. Batu yang Terus Berjatuhan

Setelah kematian, mesti ada batu-batu yang dijatuhkan demi pembela si mati selama hidup. Masalahnya, itu ritual mahal. Tidak semua ahli waris yang mampu melakukannya. Si kaya bisa berbuat dosa selama hidup, dan akan mendapat pembelaan setelah mati. Sementara yang lain, hanya mengharap kemurahan Tuk Angku dan batu-batunya.

4. Tak Lagi Suatu Hari

Cerita tentang anak perempuan yang ingin menemui neneknya di dalam karangan. Pada suatu hari, ia mengurung diri dalam kamar mandi. Ia memulainya dengan berendam, mencari celah pada bak mandi, menyusup, dan secara ajaib: ia telah berada di sebuah kolam ikan milik nenek yang dirindukannya.

5. Minangesok

Cerita tentang pemimpin adat yang menjual benda-benda pusakanya ke luar negeri. Ini cerita terpendek dan tersulit yang pernah kutulis. Cerpen ini dimuat di Haluan Minggu pada 24 Januari 2016, beberapa hari sebelum dikirimkan ke Ubud Writers and Readers Festival 2016.

6. Perihal Sepasang Itik

Bininya seekor itik. Anak laki-lakinya seekor elang dan anak perempuannya seekor burung hantu. Sementara, lelaki itu hanya manusia biasa yang sehari-hari menulis cerita.

7. Tareh Jilatang di Paruh Elang

Ada cerita tentang persahabat seekor elang dengan tareh jilatang. Konon, orang-orang ingin mendirikan sebuah rumah gadang setelah rumah adat tersebut tersembar petir. Untuk mendirikan sebuah rumah gadang, masyarakat setempat membutuhkan sebuah tonggak tuo (pohon tareh jilatang) yang akan digunakan untuk menopang rumah gadang yang akan didirikan. Sementara, itu adalah satu-satunya pohon yang tersisa, di samping satu-satunya tempat sang elang membangun sarang.