(1)

Segala yang berhamburan dan menyimpan dirinya dalam
tubuh waktu. Betapa kini hanya langit, hanya langit senja yang
berdecit karena memang sepantasnya ia berdecit. Usia yang
selalu dikayuh dalam parutan musim dan menyisakan gumpal
kenangan. Bahwasanya di Galang, kita pernah menyaksikan hujan
pagi berlari seperti hewan tunggangan.


Pelabuhan ke Moro yang sepi, hanya kapal pengangkut minyak
bumi yang tersandar letih. Seperti bersandar dalam letih usia kita
dalam timbunan matahari. Dan di sepanjang jalan menuju
kamp-kamp pengungsian itu, tak ada lagi wajah-wajah Vietnam.
Hanya deret kesepian, gereja, pagoda, atau seribu wajah kenangan
para pengungsi. “Aku jadi teringat Khim Puck,” katamu.
Khim Puck yang berlari di tengah ladang-ladang serdadu dengan
tubuh terbakar tanpa pakaian.


(2)

Pagi kita adalah lengking kereta yang baru bangun dari kandangnya.
Cahaya yang menyapih daun-daun hijau dan kabel-kabel listrik
berembun, betapa hanya ledakan kelakar dan gelembung udara yang
seberat perasaan kita masing-masing. Di stasiun tepi bukit dengan
kereta tua yang eksodus dari Ambarawa, pernah kau bayangkan jalan
menuju Danau Kandi itu.


Di antara tinggi silo, taman kota, dan dalam raung sirine kerja,
bahwa segalanya telah lama berhamburan.
“Sawahlunto adalah emas hitam. Adalah emas hitam!”
Betapa mereka berbulan-bulan untuk sampai ke kampung yang dipagari
pepohon tinggi. Dari Batavia, mereka mengendus subur daratan.
Dataran yang menjelma lubang tambang, persilangan etnik,
desahan anak jawi, hingga gemerincing rantai besi.


(3)

Sebuah hari baik yang mengalir bagai alir kota-kota air. Di atas Musi,
di atas jembatan yang telah tiga kali berganti warna, hanya masa silam
yang tak henti berlari. Di Kampung Kapitan, di sebuah rumah lama
beraksitektur Cina dengan patung Toa Pe Kong Sie yang terpaku,
mengingatkan kita tentang pecinan Thiongha Padang di tepi Batang Arau
dan sebuah makam berjenis kelamin perempuan di Bukit Gado-gado.


Seorang penyair Thailand datang menyodorkan teduh wajah, dan runyam
masa kecil di Patani. Di sudut ruangan, puisi-puisi pun dibacakan oleh
penyair lain dengan gerak tubuh lokal dan buku-buku terjemahan.
“Tapi puisinya menghujam lebih perih. Hari-hari yang penuh pertikaian
itu mengirisi retakan tulang”. Katamu, dengan kepala tenggelam dalam
timbunan puisi
.

Batam, 2015