pabaruak
Juita menuangkan santan ke dalam kuali (Foto: Ijot Goblin)

Tinggi sudah mata memandang. Telah tampak: sekumpul bulatan berpeluk pelepah, mumbang, tupai menggirik, dan lain pelepah di kejauhan. Namun, tak ada temali dan beruk utusan. Atau teriakan pabaruak, kala memerintah peliharaannya memetik buah.

“Ini sudah minggu kedua, Uda. Seharusnya Mak Awu sudah tiba bila memang tak terjadi apa-apa.” Pagi itu, Juita masih saja gusar kendati aku telah berusaha menenangkannya. Tubuhnya terlihat semakin kurus. Ia lebih sering menggigit bibirnya dan melirik ke luar jendela. Ia meremas baju kurungnya seperti meremas parutan kelapa yang masih basah. Aku hanya memicingkan mata. Membayangkan saat-saat Juita meremas parutan dan menampung santan. Dan aku sungguh mengerti kegusarannya.

Tiga hari sudah ia tak lagi memasak rendang maupun gulai ikan. Juita sungguh khawatir. Akan tetapi, bukan sekadar kekhawatirannya akan seleraku, lakinya. Perempuan yang masih saja meremas baju kurungnya ini tentu saja lebih mencemaskan Mak Awu, pabaruak kondang yang tak kunjung tampak kumis tipisnya.

Mak Awu sudah seperti orang tua kami. Ia selalu datang ke rumah kami saban pagi. Biasanya, beliau singgah sebentar menyeduh kopi, lalu pergi—mendorong gerobak yang di atasnya selalu bersimpuh seekor beruk bertemali, kapak, dan taji besi.

“Barangkali, Mak Awu sedang melatih beruk di kampung sebelah. Sekarang sudah semakin banyak saja orang yang ingin bekerja sebagai pabaruak.”

“Tapi aku mengenal Mak Awu, Uda.” Juita memang lebih mengenalnya. Sesekali, disamping menghidangkan kopi, biniku itu juga menghidangkan pisang goreng—penganan khusus untuk Mak Awu. “Tidak biasanya Mak Awu tak tepat janji. Biasanya, beliau akan tetap datang memetikkan kelapa walau untuk dua atau untuk tiga hari memasak.”

Dan biasanya, bila sedang tak ada pekerjaan, aku pun akan menemani Mak Awu ke kebun kami. Dulu, aku memang agak risi saat peliharaannya hendak memelintir buah. Cemas bila kelapa itu jatuh menimpa kepala. Tapi beruk itu memang terlatih. Dia selalu menjatuhkan buah tak jauh dari tunggulnya.

“Daripada merenung, alangkah baik bila Uda, menurut Mak Awu ke rumahnya.”

“Artinya, aku harus mengunjungi setiap batang kelapa bila ia tidak di rumah! Dan tak tahukah kau, begitu banyaknya pohon kelapa di kampung kita?”

Juita mematut masam. Tentu, bukan jawaban yang seperti itu yang ia harapkan.

“Bila sebentar lagi Mak Awu tak jua tiba, Juita, biar kuantarkan kau ke Pasar Padangpanjang. Kau bisa membeli kelapa untuk seminggu memasak. Atau aku bisa mencarikanmu pabaruak ke kampung sebelah.” Aku berhenti sejenak, membaca hati Juita lewat matanya. “Bila tidak, biar aku saja yang menggantikannya. Toh, memanjat kelapa bukan perkara susah.”

Juita menolak. Pertama, ia mengutarakan rasa malunya dan ia memang mempunyai pertimbangan tinggi saat membeli. Kami memiliki pohon kelapa dan kenapa pula mesti membeli. Kedua, ia sangat menghargai jasa orang walaupun kecil. Selama ini, Mak Awu banyak membantu. Artinya, biniku ini alangkah enggan mengupah jasa lain yang seharusnya dijatahkan untuk Mak Awu.

“Terlebih bila Uda yang memanjat!”Ia meremas baju kurungnya lebih kuat. “Aku tak mau menjadi buah bibir, Da. Sebab hanya pekerjaan beruk yang demikian. Dan aku, tak sudi disebut bersuami beruk!”


Siang kembali timbul dan tenggelam. Seperti ini pagi, yang balik menjelang secepat senja melumat petang. Persis Mak Awu yang tersiar hilang dan lagi datang. Lelaki pendek berkumis tipis ini, telah berkisah perihal untung nan malang. Bahwa beruk kesayangannya telah hilang, dijemput malam dari kandang.

“Beruk itu sungguh terampil. Dia tetap mampu memetik kelapa yang dipenuhi tawon dan semut rangrang. Tapi, apa lagi dikata bila untung malang.”


Kabar Mak Awu yang kehilangan beruknya cepat tersiar ke lepau-lepau, ke kampung sebelah, bahkan telah sampai ceritanya ke Pasar Padangpanjang. Pedagang kelapa mengisah iba. Sebab bersama beruknya, Mak Awu tidak hanya memakan upah dari hasil memetik kelapa. Ia juga mengajari sekumpulan beruk, yang tuannya ingin bekerja pula sebagai pabaruak.

Pun bagiku dan Juita. Tentu saja, kami turut prihatin atas kehilangan yang menimpa Mak Awu. Tapi, bagaimana mungkin kami bisa bertahan tanpa kelapa. Artinya, bila ingin kembali mengenyam rendang dan gulai ikan, kami harus mengupah pabaruak kampung sebelah untuk memetik kelapa.


Cerita tentang Mak Awu dan beruknya yang hilang, perlahan terlupa di keseharian. Barangkali karena banyak hal yang harus diingat. Sehingga kami, terbiasa melupakan lebih cepat. Usai Mak Awu berkeluh kesah perihal beruknya yang dijemput malam, kami, maupun orang kampung, sudah tak pernah lagi melihat kehadirannya. Mak Awu turut tertelan kehilangan.

Semula, kehilangan Mak Awu dan beruknya mulai digantikan oleh beberapa pabaruak yang datang dari kampung sebelah. Siapa pun telah dibebaskan mengeksekusi pohon kelapa di kampung kami. Tapi belakangan, para pemilik pohon kelapa di kampung kami, lebih suka mengupah Datuk Lembai, pendatang baru, yang punya peliharaan sama mahirnya dengan beruk yang pernah dimiliki Mak Awu.

Ah, Datuk Lembai. Sebutan pabaruak seketika melekat pada dirinya. Bersama beruknya, Datuk Lembai mulai menjelma legenda baru. Disamping bisa menjatuhkan kelapa lebih cepat, peliharaannya tak pernah takut pada gerombolan tawon yang beranak pinak, maupun kawanan rangrang yang beristana di sela pelepah. Beruk itu senantiasa patuh pada tuannya. Memetik kelapa merah, bila Datuk Lembai menarik tali. Lalu menjatuhkan kelapa muda, bila tuannya itu menggoyang temali.

Kabar baiknya, kami bisa lagi menikmati rendang dan gulai ikan. Kami juga bisa meminta kelapa muda bila hendak meminum airnya. Tapi kabar lainnya, sebagian orang mulai menaruh pikiran buruk. Ada yang berbisik menebar curiga. Ada yang mulai berkoar di lepau-lepau. Ada pula yang terang-terangan menghadap Datuk Lembai. Mereka menyatakan bahwa lelaki paruh baya itulah yang telah mencuri—menjemput malam beruk Mak Awu dari kandangnya!

Aku dan Juita, sebetulnya termasuk orang-orang yang berburuk sangka. Kami merasa kenal betul perihal beruk kepunyaan Mak Awu. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, Mak Awu sering datang ke rumah kami sebelum berangkat kerja. Aku sendiri sering mengamati.

Seingatku, beruk itu bertelinga sumbing. Barangkali bawaan lahir atau sengatan tawon atau gigitan rangrang yang membekas.

Tapi menurut kabar yang berkembang, Datuk Lembai turut menampung para pabaruak yang ingin melatih peliharaan. Tampaknya, memang semakin banyak saja orang-orang yang ingin beralih pekerjaan menjadi pemetik kelapa. Barangkali karena semakin banyaknya pohon kelapa yang tumbuh dan upah pabaruak yang kian menjanjikan. Ah!

Kendati demikian, aku sedikit beruntung dalam kemalangan lain di kampung kami. Setidaknya, kejengkelanku sedikit tertawar, karena beberapa hari ini, orang di kampung kami sudah tak banyak bergantung pada pabaruak. Bukan karena jasa lain yang berdatangan dari luar. Bukan pula karena kejenuhan pada rendang dan gulai ikan. Tapi disebabkan bau menyengat, yang seperti sedang mengepung kampung.

Ya, kami tak lagi memiliki selera untuk makan. Bau itu menggerogoti rendang, gulai ikan, bahkan pisang apik yang Juita beli di Pasar Padangpanjang. Kau tentunya percaya bahwa aku tak sedang berlebihan. Aroma itu alangkah busuk! Menyusup udara setiap kali menghirup. Kebusukan itu bagai bangkai iblis, yang terus menyeruak tetapi tak kasatmata.

Namun, aku masih sedikit beruntung karena telah memeristri perempuan cerdik. Juita membuat gagasan. “Petik saja kelapa yang sudah tua daripada habis digirik tupai, lalu kita jual hasilnya ke Pasar Padangpanjang.”


Aku menemani Datuk Lembai. Disamping memberi tahu tanaman kelapa yang kami punya, tentu saja ada keinginan untuk mencari tahu perihal beruknya. Tentang asal-usul misalnya, kupingnya yang sumbing dan ….

“Bagaimana mungkin orang-orang di sini masih berpikiran buruk terhadapku! Aku telah bersedia mengambilkan kelapa, sekalipun di sana dipenuhi tawon dan semut rangrang. Bukankah orang-orang di sini sudah lama tak memasak rendang dan gulai ikan? Seharusnya kalian berterima kasih. Bukan menuduhku!”

Ah, bagaimana mungkin Datuk Lembai dapat membaca pikiranku. Dia sungguh tersinggung. Namun, tetap ada keganjilan yang menampak. Bahwa Datuk Lembai dan beruknya itu, di mataku, tidak seperti tuan dan peliharaannya!


Di bawah pohon kelapa, Datuk Lembai mulai memerintah sambil mengulur tali-temali. Beruknya memang langsung memanjat. Namun, di atas sana, di antara pelepah, beruknya itu hanya termenung—entah bersedih, entah tak mengerti perintah tuannya.

“Putar! Pelintir! Petik yang masak dan sisakan yang masih muda.” Tapi, tak ada kelapa yang jatuh berdentum. Tidak pula mumbang. Sementara angin terus berembus, membawa aroma yang terasa mencekik di tenggorokan. Bau itu. Bau itu! Huek!

“Pantek!” Datuk Lembai mulai memaki. Hilang sudah kesabarannya. Dia mengikatkan temali ke pohon kelapa, lalu ikut memanjat bak bapak beruk. Tapi belum sampai di separuh batang, Datuk Lembai menatap atas. Beruknya menarik temali, lalu menggigit dengan bengisnya. Datuk Lembai balik memaki saat peliharaannya berhasil memutus tali.

Beruk itu telah lepas dari ikatan. Semula hanya bergayut di pelepah. Tapi melompat kemudian dan melekat di lain batang. Lompatannya berlanjut. Dari nangka ke pohon manggis. Turun ke tanah, lalu berlari menuju lain pohon. Datuk Lembai mulai berteriak memanggilku, meminta pertolongan karena tak bisa turun dari batang. Aku sedang tak peduli, kecuali memandangi peliharaannya yang terus berlari. Di tunggul akasia, tampak beruknya memandang atas, memeluk batang, lalu bergayut pada dahan ….

Aku mendengar suaranya. Juita tiba-tiba memekik di belakangku. Aku menoleh cepat, dan menangkap wajahnya yang tampak pias. Matanya memandang atas seraya meneriakkan sebuah nama. Aku mengikut pandangan. Beruk menggelayuti dahan demi dahan. Meraih, lalu menggigit temali yang pada ujungnya tergantung tubuh kaku. “Mak Awu, Da! Mak Awu!” pekiknya. Aku memejamkan mata. Mak Awu: si pabaruak kondang berkumis tipis, telah membusuk menggayut diri.

Riwayat Publikasi:
– Pemenang II Sayembara Penulisan Cerpen Etnika Fest UGM 2015
– Dimuat di Riau Pos, 8 November 2015
– Dimuat dalam antologi dwi-bahasa (Indonesia-Inggris) ‘Tat Tvam Asi’ Ubud Writers and Readers Festival 2016