PARA PELAKU

TUKANG KABA
PUTI MANI
SITI RUBIAH
MAK KATIK
SAMBILUDIN
ENGKU SALIAH
SEORANG LELAKI DI BALIK SEMAK
LELAKI PENGANGKUT BEBAN
LELAKI PEDAGANG
SUARA-SUARA
MAK AWU
UPIK
RATIH
KALABA
TEK NUR
BUYUNG AJIK
RATIH KECIL
JUITA
DATUK LEMBAI
BEBERAPA PABARUAK
BEBERAPA PEREMPUAN


Lakon Pabaruak (I): Riak Mamacah, di Masa Silam

lakon-pabaruak-silam
Image by Sasin Tipchai from Pixabay

PANGGUNG GELAP. MUSIK FADE IN. SECERCAH CAHAYA MENIMPA TUKANG KABA. IA SEDANG DUDUK DI SEBUAH KURSI ROTAN YANG MENGHADAP KE ARAH PENONTON. DI DEPANNYA ADA SEGELAS KOPI PANAS YANG DILETAKKAN DI SEBUAH MEJA.

  1. TUKANG KABA
    (MENYERUPUT KOPI PANAS. MENDESAH NIKMAT. LANTAS MENYALAKAN ROKOK). Tersebutlah Riak Mamacah; daerah rantau Minangkabau yang dibangun di tanah subur. Konon, di tanah yang subur itu, hanya ada satu orang yang memiliki hak atas kelapa. Pada masa itu, setiap tanah yang ditumbuhi pohon kelapa adalah kepunyaan satu. Sementara, pohon kelapa tak hanya tumbuh di tanah ladang. Pohon kelapa juga ada di pinggir pantai, di sisi jalan bahkan di halaman rumah. Di sana, jumlah kelapa tiga puluh tiga kali lipat dari jumlah kepala manusia. Dan semuanya telah diwariskan oleh seorang ibu kepada anak perempuannya yang bernama Puti Mani. (MUSIK FADE OUT. TUKANG KABA MENGHISAP ROKOKNYA DALAM-DALAM, LALU MENGEPULKAN ASAPNYA KE ARAH PENONTON). Seperti halnya garis keturunan di Minangkabau, Puti Mani memang pewaris yang sah atas setiap tanah yang ditumbuhi pohon kelapa. Ia anak perempuan satu-satunya. Untuk itu, baik ibu maupun mamaknya, mulai mendesak Puti untuk segera menikah.
    LAMPU YANG MENYOROT TUKANG KABA PADAM PERLAHAN. SECERCAH CAHAYA LAIN MENIMPA SITI RUBIAH DAN PUTI MANI. MEREKA SEDANG MENGUPAS KULIT KELAPA, MENYATUKAN TIGA BUAH DENGAN IKATAN. DI LATAR BELAKANG TERLIHAT PARAK KELAPA. POHON KELAPA. SEMAK. RUMPUT LIAR. MAK KATIK MEMASUKI PANGGUNG. LANTAS DUDUK BERSILA, MEMBANTU ADIK PEREMPUAN DAN KEMENAKANNYA.
  2. MAK KATIK
    Kelapa seusiamu sudah letih berbuah, Puti. Jadi, sudah sepatutnya kau memikirkan laki-laki yang bisa membuatmu beranak-pinak.
  3. SITI RUBIAH
    Benar kata mamakmu, Puti. (MENGURAK SIMPUH, LALU MENGAMBIL KAIN BURUK DI SISINYA UNTUK TENGKULUK. MENUTUPI RAMBUT). Bahkan, ibu harus sebelas kali mengandung demi melahirkanmu.
    PUTI MANI MEMBUANG MUKA, LALU MEMANDANG JAUH.
  4. MAK KATIK
    Tiga malam belakang, Engku Saliah datang bertandang. Dia memuja kelapa yang tak pernah henti berbuah, lantas meminta sebatang kelapa di halaman rumahnya untuk dijadikan hak. Tapi belum terucap, sudah terngiang.
  5. SITI RUBIAH
    Apa maksud kedatangan beliau, Tuan?
  6. MAK KATIK
    Beliau turut menceritakan kemenakannya. Khawatir bila anak itu tak dapat bini lalu menjadi si bujang lapuk. Ah, tentu saja tujuannya hendak menanyakan si Puti, menyilau kesediaan kita mengunyah sirih.
  7. SITI RUBIAH
    Oh. Kalau begitu, sampaikanlah pesan ke Engku Saliah, Tuan. Bila perlu, kita tawarkan sepuluh batang kelapa untuk jemputan.
  8. PUTI MANI
    (MERUNGUT). Tapi, Bu?
  9. MAK KATIK
    Kau bukan lagi mumbang, Puti! Tidak pula kelapa muda. Kau itu kelapa masak, yang bila lambat dipetik, tinggal menanti jatuh lalu membusuk.
    MUSIK FADE IN. SEMUANYA SEKETIKA MEMATUNG. SECERCAH CAHAYA MENIMPA TUKANG KABA.
  10. TUKANG KABA
    Puti seketika tertunduk. Dia ingin membantah Mak Katik, yang selalu membandingkannya dengan kelapa. Namun sebagai kemenakan, ia sudah mengenal betul watak mamaknya. Bila lelaki berkumis lebat itu telah bicara, tak ada cerita untuk membantah.
    MUDIK FADE OUT. LAMPU YANG MENYOROT TUKANG KABA PADAM PERLAHAN. PUTI MANI DAN SITI RUBIAH KEMBALI BEKERJA SEPERTI SEMULA.
  11. MAK KATIK
    Kita mesti melangsungkannya dalam waktu dekat.
  12. SITI RUBIAH
    Betul, Tuan. Kita harus melangsungkannya dalam waktu dekat. Tak dapat tidak.
  13. PUTI MANI
    Bu!
  14. SITI RUBIAH
    Tak dapat tidak, Puti!
  15. MAK KATIK
    Tak bisa tidak bila kau memang memikirkan harta pusaka. (MAK KATIK MEMELINTIR TEMBAKAU DI DAUN ENAU. SAMBIL MENGGIGIT HASIL PELINTIR, MENYALAKAN API PADA UJUNGNYA, LELAKI PARUH BAYA ITU MEMBERI PERINGATAN). Bila kau sampai tak dapat anak perempuan, Puti, hanguslah ladang kelapa. Kelak, kelapamu ini akan diambil seseorang—yang entahlah bermamak entah tidak.
    LAMPU FADE OUT. MUSIK FADE IN. LAMPU FADE IN MENYOTOT TUKANG KABA. IA MENYERUPUT KOPI YANG TAK LAGI PANAS. LANTAS MENYALAKAN ROKOK SEBATANG LAGI.
  16. TUKANG KABA
    Di Riak Mamacah, malam belumlah habis. Tapi gadis itu telah terjaga, tak hendak merebah tubuhnya sampai pagi menjemput siang. Hari itu, mamaknya akan datang, menanti kehadiran Engku Saliah yang akan menyilih ke rumah gadang. Petang hari, mamaknya telah memperingatkan. Kata mamaknya itu, Puti Mani mesti menunduk untuk mengisyaratkan tanda setuju. Mak Katik tak hendak melihat kemenakannya yang keras kepala itu melakukan penolakan seperti yang sudah-sudah. (LAMPU FADE IN MENYOROT PUTI MANI DI DALAM BILIKNYA. PUTI TELAH LAMA BANGKIT MESKI MASIH BERKURUNG DI DALAM BILIK). Di depan jendela kamar, jemari kanannya mulai mencungkili kuku kiri. Pikirannya kembali tertuju pada dua lelaki yang pernah membujuk ibunya agar dijemput.
    LAMPU FADE IN MENYOROT DUA LELAKI.
  17. LELAKI PENGANGKUT BEBAN
    Aku memiliki pundak yang kokoh dan lengan yang kuat, Puti. Setelah menikah, kau tak perlu lagi membayar orang-orang untuk mengangkut kelapa dari tunggulnya.
  18. TUKANG KABA
    Waktu itu, Puti mengatakan bahwa ia mempunyai sepuluh saudara laki-laki yang selalu membantunya mengangkut beban.
  19. LELAKI PEDAGANG
    Aku pedagang yang pandai dan memiliki sejumlah pelanggan di pulau seberang. Bila kau menerima pinanganku, Puti, dan memberikan tujuh batang kelapa sebagai jemputan, kau tak perlu bersusah payah lagi mencari pembeli.
  20. TUKANG KABA
    Akan tetapi gadis itu masih bersikeras—mengatakan bahwa kelapanya telah dipesan jauh-jauh hari, bahkan sebelum jatuh. (TUKANG KABA MENAHAN CERITA. IA MULAI MEMANDANG KE SISI KIRI. MENENGADAH. LANTAS MEMANGGIL NAMA PEREMPUAN BEBERAPA KALI) Juita! Oo Juita! (NAMUN TAK ADA YANG DATANG, KECUALI SUARA PEREMPUAN DARI BELAKANG PANGGUNG).
  21. SUARA JUITA
    Kopinya habis!
  22. TUKANG KABA
    (IA MENDESAH. NAMUN TETAP BERSIKERAS MELANJUTKAN CERITA). Tiada guna, sekalipun siang itu diguyur hujan. Kendati masih berkurung di dalam bilik, Puti Mani mengetahuinya. Seorang lelaki tua dan kemenakannya bersikeras datang, tiba berpelepah pisang demi menepati janji pada Mak Katik—yang menjelang siang larut bersila di rumah gadang.
    LAMPU FADE IN MENYOROT MAK KATIK. IA SEDANG BERSILA SAMBIL MEMELINTIR TEMBAKAU DI DAUN ENAU. LAMPU FADE IN MENYOROT ENGKU SALIAH DAN SAMBILUDIN DARI KEJAUHAN. MEREKA BERGEGAS. MENUTUPI KEPALA DENGAN PELEPAH PISANG.
  23. ENGKU SALIAH
    (PADA SAMBILUDIN) Cepatlah! Mak Katik sudah menunggu.
  24. TUKANG KABA
    Puti mulai membayangkan sepasang kursi rotan dan tikar pandan yang terbentang.
  25. PUTI MANI
    Bila senja tiba, di sepasang kursi rotan itulah, aku dan ibuku menanti malam.
  26. TUKANG KABA
    Hanya saja, kali ini ibunya tak sedang duduk di kursi rotan. Ibunya yang tua renta itu …
  27. PUTI MANI
    (MEMOTONG NARASI TUKANG KABA) Ibuku sedang menjerang air di ruang belakang. Baginya, setiap lelaki yang datang adalah tamu kehormatan.
  28. TUKANG KABA
    Sementara Engku Saliah dan kemenakannya yang bernama Sambiludin, telah bersila menghadap mamaknya di selembar tikar pandan.
    MAK KATIK SUDAH BERKUMPUL DENGAN ENGKU SALIAH DAN SAMBILUDIN DI TIKAR PANDAN. LAMPU FADE IN MENYOROT SITI RUBIAH DI KEJAUHAN. IA MEMBAWA TIGA GELAS KOPI. MENGHIDANGKANNYA. LANTAS BERDIRI, MEMANGGIL PUTI.
  29. PUTI MANI
    Waktu memang berjalan cepat di Riak Mamacah. Terlebih untuk setiap gadis yang enggan menikah.
  30. TUKANG KABA
    Siang itu, Puti belum sempat membuat rencana ketika ibunya mengetuk bilik. Puti membuka pintu, lalu melangkah enggan sebelum ikut bersimpuh di tikar pandan. Mamaknya memperkenalkan. Mengatakan yang baik-baik perihal lelaki yang sedang duduk menegakkan lutut. Lantas, menerangkan betapa lelaki itu pemanjat yang pandai—yang tak terhitung buah, yang telah ia jatuhkan dari tampuknya. (JEDA). Di tengah rumah, Puti mematut mamaknya. Ia ingin membantah, tapi cepat kemudian ia mengalih pandangannya pada lelaki yang mengisyaratkan dua puluh batang kelapa sebagai jemputan. Setelah merenung beberapa saat, Puti menarik napas, mereguk ketakutan dan keseganan pada Mak Katik. Puti pun mengajukan persyaratan.
  31. PUTI MANI
    Bila Uda bisa menjatuhkan seribu kelapa tanpa menyentuh tandannya dalam sehari, Puti akan mengantarkan dua puluh batang yang Uda minta.
  32. TUKANG KABA
    (TERTAWA PADA PENONTON). Sambiludin o Sambiludin. Sambiludin diam tercengang. Umpannya yang hampir tertelan ikan, kembali dimuntahkan sesaat ia menarik joran. Sepanjang hidup, Sambiludin hanya bisa memanjat dan memetik buah. Sesekali, Mak Katik memang mengupahnya memetik kelapa. Namun tak lebih dari seratus buah dalam sehari. Itu pun, bila tak ada tawon dan semut rangrang yang bersarang pada pelepah.
  33. SAMBILUDIN
    Baiklah.
  34. TUKANG KABA
    Namun memang bukan wataknya untuk menyerah. Ia mengukur diri, menimang bayang sepanjang badan.
  35. SAMBILUDIN
    Bila mamang itu permintaan Puti, tolong berikan waktu barang lima atau enam bulan. Bila dalam waktu itu Uda tak datang, bolehlah Puti menutup diri.
    LAMPU FADE OUT. MUSIK FADE IN. SECERCAH CAHAYA MENYOROT TUKANG KABA YANG KEMBALI MENGEPULKAN ASAP ROKOKNYA KE ARAH PENONTON.
  36. TUKANG KABA
    Sejak pertemuan siang itu, Sambiludin bagai ditelan Riak Mamacah. Kepergiannya tanpa pamit. Tanpa jejak.
    LAMPU YANG MENYOROT TUKANG KABA FADE OUT. MUSIK MENGERAS. MUSIK ADALAH PENGGAMBARAN WAKTU 6 BULAN. LAMPU FADE IN MENYOROT ENGKU SALIAH YANG SEDANG BERTANDANG DI RUMAH MAK KATIK. MEREKA DUDUK BERHADAPAN DI TIKAR PANDAN. MUSIK FADE OUT.
  37. ENGKU SALIAH
    Begitulah. Kepergiannya tak tampak punggung dan hampir enam bulan sejak ia tak tampak muka. Beberapa orang yang mencari kayu di hutan, memang pernah mengabarkan. Katanya,
  38. SUARA 1
    Awak pernah melihat Sambiludin bersama beruk.
  39. SUARA 2
    Ya. Sekilas, wajahnya seperti Sambiludin. Tapi awak tak bisa pula memastikan bahwa itu si Sambiludin.
  40. MAK KATIK
    Awak pun pernah mendengarnya, Engku. Seseorang pernah mengatakan bahwa ia melihat Sambiludin bersama beruk yang bertemali. (MAK KATIK MEMELINTIR TEMBAKAU DI DAUN ENAU)
    LAMPU FADE IN MENYOROT SEORANG LELAKI DI BALIK SEMAK. LAMPU FADE IN MENYOROT SAMBILUDIN BERSAMA SEEKOR BERUK DI KEJAUHAN. ADA SEBUAH KELAPA YANG DIGANTUNGKAN DI POHON BERCABANG RENDAH.
  41. MAK KATIK
    Namun, lelaki itu pun tak bisa pula memastikan bahwa yang dilihatnya itu si Sambiludin. Katanya, ia ingin menyapa, tapi takut, bila itu hanya orang bunian yang wajahnya menyerupai Sambiludin. Dari balik semak, katanya, ia melihat Sambiludin menggantungkan buah kelapa pada pohon bercabang, lalu mengulur temali sambil berteriak agar beruk terikat terus memanjat.
  42. SUARA 3
    Lalu berteriak lagi sampai beruk itu memutar-mutar kelapa yang digantungkan. Setelah kelapa itu jatuh, lelaki yang wajahnya persis Sambiludin itu kembali menggayutkan kelapa pada dahan yang lebih tinggi. Berteriak lagi agar beruknya memutar-mutar kelapa sampai jatuh dan terus begitu sampai berulang-ulang.
    LAMPU YANG MENYOROT SAMBILUDIN DAN SEORANG LELAKI DI BALIK SEMAK FADE OUT. LAMPU YANG MENYOROT ENGKU SALIAH DAN MAK KATIK FADE OUT. MUSIK FADE IN. SECERCAH CAHAYA MENIMPA TUKANG KABA YANG SEDANG MEREGUK KOPI DINGIN SAMPAI HABIS.
  43. TUKANG KABA
    Enam bulan telah berlalu. Puti Mani menunggu sehari, dua hari, sampai tiga hari kemudian untuk menepati janjinya dengan Sambiludin—kemenakan Engku Saliah—yang akan datang dengan kemampuan memetik seribu kelapa dalam sehari tanpa menyentuh batangnya. Namun Sambiludin tak kunjung datang dan …. (MUSIK MENGERAS. MUSIK ADALAH PENGGAMBARAN WAKTU BERTAHUN-TAHUN DALAM KISAH SI TUKANG KABA. MUSIK FADE OUT). Tahun demi tahun telah berlalu. Puti Mani memutuskan untuk menjemput lelaki si pengangkut beban dengan seratus batang kelapa.
    MUSIK FADE IN. LAMPU FADE IN DI POJOK KANAN PANGGUNG, MENYOROT PUTI MANI DAN LELAKI PENGANGKUT BEBAN DARI SISI KIRI. MEREKA MENGENAKKAN PAKAIAN ADAT, BERJALAN CEPAT MELINTASI PANGGUNG.
  44. LELAKI PENGANGKUT BEBAN
    Akhirnya, aku memilikimu, Puti.
  45. TUKANG KABA
    Oleh lelaki yang menerima jemputan, seratus batang kelapa itu segera dihibahkan pada adik perempuannya. Namun setelah lama menikah dan dikaruniai empat orang anak, mereka mesti bercerai karena lelaki itu tak kunjung memberikan anak perempuan. (JEDA) Setahun setelahnya, Puti Mani menjemput lelaki pedagang—yang juga pernah ditolaknya karena pernah meminta sepuluh batang kelapa sebagai jemputan.
    LAMPU DI POJOK KANAN PANGGUNG FADE OUT. LAMPU FADE IN DI POJOK KIRI PANGGUNG, MENYOROT PUTI MANI DAN LELAKI PEDAGANG DARI SISI KANAN. MEREKA MENGENAKKAN PAKAIAN ADAT, MELANGKAH LEBIH CEPAT MELINTASI PANGGUNG.
  46. LELAKI PEDAGANG
    Sekarang, kau menjadi milikku, Puti. Ah, mestinya kau menerima pinanganku dari dulu.
  47. TUKANG KABA
    Sebagai bentuk penyesalannya, Puti Mani pun memberi lebih. Ia menawarkan dua ratus batang kelapa sebagai jemputan dan …. Kelapa jatuh bersambut. Oleh lelaki itu, dua ratus batang kelapa yang diterimanya sebagai jemputan, diberikan pula pada dua ratus orang di Riak Mamacah. Namun kenyataannya, lelaki itu jauh lebih buruk. Puti Mani lebih menyesal. Meskipun mahir berdagang dan mempunyai banyak langganan di kampung seberang, lelaki itu tak pernah sanggup memberi keturunan.
    MUSIK FADE OUT. LAMPU DI POJOK KIRI PANGGUNG FADE OUT. LAMPU FADE IN MENYOROT PUTI MANI. IA SEDANG MENCABUTI RUMPUT LIAR DI PINGGIR PARAK.
  48. SITI RUBIAH
    Kau mestinya bersabar, Puti!
  49. PUTI MANI
    Sabar tidak memberikan perempuan, Bu.
  50. SITI RUBIAH
    Seharusnya, kau itu meneladaniku. Aku terus bersabar, terus mempertahankan lakiku, terus mengandung hingga sebelas kali sampai aku melahirkanmu!
  51. PUTI MANI
    Apa gunanya mempertahankan lelaki yang selangkangannya tak rutin bergerak, Bu! Seharusnya, ibu memaksaku lebih keras ketika Sambiludin menanyaiku.
  52. TUKANG KABA
    Sampai pada suatu hari, Puti Mani mulai melupakan keinginannya untuk memiliki anak perempuan. Ia kembali mengurusi pohon kelapa dengan membayar belasan pemanjat pandai untuk memetik kelapa dari tandannya. Sambil mencabuti rumput-rumput liar di pinggir ladang, perempuan itu mendengar sesuatu yang terus berdentum—seperti buah kelapa yang terus berjatuhan dari tandannya.
    TERDENGAR SUARA BERDENTUM. BUM! PUTI MANI SEKETIKA BERDIRI, LANTAS BERLARI MENUJU SUARA. IBUNYA MENGIKUTI.
  53. TUKANG KABA
    Ia menyusuri jalan setapak, lalu menyibak semak dan menyeruduk masuk ke dalam sebuah ladang yang ditumbuhi seratus pohon kelapa. Ladang itu adalah pemberiannya pada lelaki pengangkut beban—yang kemudian memberikannya pula ke adik perempuannya, yang separuhnya juga diberikan adik perempuannya pada seorang lelaki sebagai jemputan, yang tak lain adalah lelaki yang pernah hilang bagai tertelan, yang kini telah mampu memetik seribu buah dalam sehari tanpa menyentuh batang kelapa.
    MUSIK FADE IN. LAMPU YANG MENYOROT TUKANG KABA PADAM PERLAHAN. LAMPU FADE IN MENYOTOT PUTI MANI YANG SEDANG TERNGANGA. LAMPU FADE IN MENYOROT SAMBILUDIN DI KEJAUHAN. IA MENGULUR TALI, MEMERINTAHKAN BERUKNYA MEMANJAT KELAPA.
  54. SAMBILUDIN
    Panjat! Jatuhkan yang masak dan sisakan yang belum matang! (BERUKNYA MULAI MEMANJAT). Ya! Putar. Putar ke kanan atau pelintir ke arah kiri!
    DALAM WAKTU SINGKAT, TERDENGAR SUARA KELAPA YANG JATUH BERDENTUM. BUM! KELAPA BERGULING-GULING DI ATAS PANGGUNG.
    LAMPU PADAM PERLAHAN. MUSIK MENGERAS, MEMEKAKKAN TELINGA. MUSIM ADALAH PENGGAMBARAN WAKTU RATUSAN TAHUN. DENGAN SEGALA KEMUNGKINANNYA. SEMENTARA MUSIK BERBUNYI, VISUALISASI SLIDE/FILM/VIDEO FADE IN DAN LARUT MEMPERLIHATKAN RIWAYAT PABARUAK DI LATAR BELAKANG, DARI PABARUAK SATU KE PABARUAK BERIKUTNYA DAN SEGALA PERKEMBANGANNYA HINGGA NASKAH INI DIPENTASKAN.
    MUSIK FADE OUT. SLIDE/FILM/VIDEO FADE OUT.

SELANJUTNYA: LAKON PABARUAK (II): RIAK MAMACAH, DI MASA SEKARANG >>>