Wawancara dengan J Rio Jovian Haminoto

Penulis adalah salah satu profesi yang paling berisiko. Salah satu risikonya ketika ia mendapati beberapa pertanyaan tak penting yang pada akhirnya menimbulkan risiko lain bila ia enggan memberi jawaban. Untuk itu, saya mulai mengumpulkan beberapa pertanyaan, memilih, dan mencoba menanyakannya kembali kepada beberapa rekan penulis. Kali ini, Joseph Rio Jovian Haminoto akan menjawab 6 pertanyaan tak penting yang sering diajukan pada penulis:

  1. Apa yang mendorong Anda untuk menyelesaikan sebuah karya?
    Penyembuhan luka batin.
  2. Menurut Anda, apa standar sukses dari seorang penulis?
    Bila berhasil merangkai kalimat yang menggerakan jiwa pembacanya.
  3. Di mana tempat yang paling sering Anda gunakan saat menulis dan kapan waktu terbaik Anda untuk menulis?
    Tempat yang sunyi tanpa orang lain, kapan pun, yang penting sendiri.
  4. Apa yang Anda lakukan bila mengalami kebuntuan saat menulis?
    Jatuh cinta.
  5. Apa motivasi Anda saat menerbitkan sebuah buku dan apa alasan Anda saat membeli sebuah buku?
    Menerbitkan sebuah buku untuk membalas rasa sakit di hati.
    Membeli sebuah buku untuk menumpang dalam mimpi orang lain.
  6. Buku siapa yang paling berpengaruh dalam proses penulisan Anda dan bisa ceritakan sedikit tentang buku tersebut?
    Injil …. Karena kitab itu yang membawa saya kembali dalam putaran hakiki dan ilahi yang wajar setelah tergulung dosa.

Joseph Rio Jovian Haminoto

Joseph Rio Jovian Haminoto lahir di Jakarta pada tahun 1973. Ia memulai kegemarannya menulis semasa di Kolase Kanisius dan tulisan pertamanya yang berjudul Manhattan’s Story pernah dimuat di majalah Hai ketika itu.

Rio mendapatkan gelar kesarjanaan Bachelor of Arts in Political Science and Goverment dari Universitas Clark di Worcester-Massachusetts, Amerika Serikat. Setelah lulus kesarjanaannya itu, Rio pun mulai menerbitkan tiga karya awalnya, yaitu Don Joviano (1998), Kionelle: The Avenue to Northern Ireland (2007), dan Catatan Si Boy (2009). Sampil tetap mempersiapkan karya-karya berikutnya, Rio melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswa paska sarjana di Said Business School-Universitas Oxford, Inggris. Dia adalah salah seorang anggota dari St. Hugh’s College. Pada tahun 2016, ia diundang ke Ubud Writers and Readers Festival dan me-launching novel terbarunya yang berjudul Erstwhile di Ubud, Bali.