cerpen-hikayat-puti-mani-dan-beruk-bertemali
Puti Mani (Foto: Ijot Goblin)

Tersebutlah Riak Mamacah; daerah rantau Minangkabau yang dibangun di tanah subur. Konon, di tanah yang subur itu, hanya ada satu orang yang memiliki hak atas kelapa. Pada masa itu, setiap tanah yang ditumbuhi pohon kelapa adalah kepunyaan satu. Sementara, pohon kelapa tak hanya tumbuh di tanah ladang. Pohon kelapa juga ada di pinggir pantai, di sisi jalan, bahkan di halaman rumah. Di sana, jumlah kelapa tiga puluh tiga kali lipat jumlah kepala manusia. Dan semuanya telah diwariskan oleh seorang ibu kepada anak perempuannya yang bernama Puti Mani.

Seperti halnya garis keturunan di Minangkabau, Puti Mani adalah pewaris yang sah atas setiap tanah yang ditumbuhi pohon kelapa. Ia anak perempuan satu-satunya dalam kaumnya. Dan atas alasan itu pula, baik ibu maupun mamaknya, mulai mendesak Puti untuk segera menikah.

“Kelapa seusiamu sudah letih berbuah, Puti. Jadi, sudah sepatutnya kau memikirkan laki-laki yang bisa membuatmu beranak-pinak,” kata Mak Katik, mamaknya yang tengah bersila di ladang kelapa.

“Benar kata mamakmu, Puti,” timpal ibunya, yang mengurak simpuh lalu menyulap kain buruk jadi tengkuluk. “Kau harus melahirkan perempuan. Bahkan, Ibu harus sebelas kali mengandung demi melahirkanmu.”

Puti Mani membuang muka, lalu memandang jauh.

“Tiga malam belakang, Engku Saliah datang bertandang. Dia memuja kelapa yang tak pernah henti berbuah, lantas meminta sebatang kelapa di halaman rumahnya untuk dijadikan hak. Tapi belum terucap, sudah terngiang. Beliau turut menceritakan kemenakannya, khawatir bila anak itu tak dapat bini lalu menjadi si bujang lapuk. Dan, tentu saja tujuannya hendak menanyakan si Puti, menyilau kesediaan kita mengunyah sirih.”

“Oh. Kalau begitu, sampaikanlah pesan ke Engku Saliah, Tuan. Bila perlu, kita tawarkan sepuluh batang kelapa untuk jemputan.”

“Tapi, Bu?”

“Kau bukan lagi mumbang, Puti! Tidak pula kelapa muda. Kau itu kelapa masak, yang bila lambat dipetik, tinggal menanti jatuh lalu membusuk.”

Puti seketika tertunduk. Dia ingin membantah Mak Katik, yang selalu membandingkannya dengan kelapa. Tapi sebagai kemenakan, ia sudah mengenal betul watak mamaknya. Bila lelaki berkumis lebat itu telah bicara, tak ada cerita untuk membantah.

“Kita mesti melangsungkannya dalam waktu dekat. Tak bisa tidak bila kau memang memikirkan harta pusaka.” Mak Katik memelintir tembakau di daun enau. Sambil menggigit hasil pelintir, menyalakan api pada ujungnya, lelaki paruh baya itu memberi peringatan. “Bila kau sampai tak dapat anak perempuan, Puti, hanguslah ladang kelapa. Kelak, kelapamu ini akan diambil seseorang—yang entahlah bermamak entah tidak.”


Di Riak Mamacah, malam belumlah habis. Tapi gadis itu telah terjaga, tak hendak merebah tubuhnya sampai pagi menjemput siang. Hari itu, mamaknya akan datang, menanti kehadiran Engku Saliah yang akan menyilih ke rumah gadang (rumah adat Minangkabau sekaligus tempat tinggal sebuah kaum). Dan kata mamaknya itu, Puti Mani mesti menunduk untuk mengisyaratkan tanda setuju. Mak Katik tak hendak melihat kemenakannya yang keras kepala itu melakukan penolakan seperti yang sudah-sudah.

Di depan jendela kamar, jemari kanannya mulai mencungkili kuku kiri. Pikirannya kembali tertuju pada dua lelaki yang pernah membujuk ibunya agar dijemput. Salah seorangnya si pengangkut beban—yang setelah menikah, katanya, Puti tak perlu lagi membayar orang-orang untuk mengangkut kelapa dari tunggulnya. Tapi waktu itu, Puti mengatakan ia mempunyai sepuluh saudara laki-laki yang selalu membantunya mengangkut beban. Ada pula seorang pedagang—yang setelah dijemput dengan tujuh batang kelapa, Puti tak perlu bersusah payah lagi mencari pembeli. Katanya, dia pedagang yang pandai dan memiliki sejumlah pelanggan di pulau seberang. Tapi gadis itu masih bersikeras—mengatakan kelapanya telah dipesan jauh-jauh hari, bahkan sebelum dipetik.


Tiada guna, sekalipun siang itu diguyur hujan. Kendati masih berkurung di dalam bilik, Puti Mani mengetahuinya. Seorang lelaki tua dan kemenakannya bersikeras datang, tiba berpelepah pisang demi menepati janji pada Mak Katik—yang menjelang siang larut bersila di rumah gadang. Puti mulai membayangkan sepasang kursi rotan dan tikar pandan yang terbentang. Bila senja tiba, di sepasang kursi rotan itulah, ia dan ibunya menanti malam. Tapi, tentu saja ibunya tak sedang duduk di kursi rotan. Ibunya yang tua renta itu sedang menjerang air di ruang belakang, pikirnya. Sementara Engku Saliah dan kemenakannya yang bernama Sambiludin, tengah bersila menghadap mamaknya di selembar tikar pandan.

Ah, waktu memang berjalan cepat untuk setiap gadis yang enggan menikah. Siang itu, Puti belum sempat membuat rencana ketika ibunya mengetuk bilik. Puti membuka pintu, lalu melangkah enggan sebelum ikut bersimpuh di tikar pandan. Mamaknya memperkenalkan. Mengatakan yang baik-baik perihal lelaki yang sedang duduk menegakkan lutut. Lantas, menerangkan betapa lelaki itu pemanjat yang pandai—tak terhitung buah, yang telah ia jatuhkan dari tampuknya.

Puti mematut mamaknya, ingin membantah. Tapi cepat kemudian, ia mengalih pandangan pada lelaki yang mengisyaratkan dua puluh batang kelapa untuk jemputan. Setelah merenung beberapa saat, Puti menarik napas, mereguk rasa takut dan segan pada Mak Katik, lalu mengajukan persyaratan. “Bila Uda bisa menjatuhkan seribu kelapa setiap hari tanpa memeluk batangnya, tanpa menyentuh tandannya, Puti akan mengantarkan dua puluh batang yang Uda minta.”

Sambiludin, alangkah tercengang. Umpannya yang hampir tertelan ikan, kembali dimuntahkan sesaat ia menarik joran. Sepanjang hidup, ia hanya bisa memanjat dan memetik buah. Sesekali, Mak Katik memang mengupahnya memetik kelapa. Tapi tak lebih dari seratus buah dalam sehari. Itu pun, bila di pelepah tak ada tawon dan rangrang yang bersarang. Tapi bukan wataknya untuk menyerah. Ia mengukur diri, menimang bayangan sepanjang badan sebelum memutuskan.

“Bila itu permintaan Puti, tolong berikan waktu barang lima atau enam bulan. Bila dalam waktu itu Uda tak datang, bolehlah Puti menutup diri.”


Sejak pertemuan siang itu, Sambiludin bagai ditelan Riak Mamacah. Kepergiannya tanpa pamit. Tanpa jejak.

“Begitulah. Kepergiannya tak tampak punggung dan hampir enam bulan sejak ia tak tampak muka,” kata Engku Saliah saat bertandang ke rumah Mak Katik. “Beberapa orang yang mencari kayu di hutan, memang pernah mengabarkan. Katanya, mereka pernah melihat Sambiludin bersama beruk. Tapi tak seorang pula yang dapat memastikan bahwa yang dilihatnya itu si Sambiludin.”

“Awak pun pernah mendengarnya, Engku.” Mak Katik menanggapi sambil memelintir tembakau di daun enau. “Seseorang pernah mengatakan ia melihat Sambiludin bersama beruk bertemali. Akan tetapi, ia tak bisa pula memastikan bahwa lelaki itu si Sambiludin. Katanya, ia ingin menyapa, tapi takut, bila itu hanya orang bunian yang wajahnya menyerupai si Sambiludin. Dari balik semak, katanya, ia melihat Sambiludin menggantungkan buah kelapa pada pohon bercabang, lalu mengulur temali sambil berteriak agar beruk terikat terus memanjat. Lalu berteriak lagi sampai beruk itu memutar-mutar kelapa yang digantungkan.” Mak Katik mulai membakar tembakau yang telah tergulung di daun enau. “Setelah kelapa itu jatuh, lelaki yang wajahnya persis Sambiludin itu kembali menggayutkan kelapa pada dahan yang lebih tinggi. Berteriak lagi agar beruknya memutar-mutar kelapa sampai jatuh.” Mengisap udutnya dalam-dalam, dan disela batuk, “dan terus begitu sampai berulang-ulang.”


Enam bulan berlalu. Puti Mani menunggu sehari, dua hari, sampai tiga hari untuk menepati janjinya dengan Sambiludin—kemenakan Engku Saliah—yang akan datang dengan kemampuan memetik seribu kelapa dalam sehari tanpa menyentuh batangnya. Akan tetapi, Sambiludin tak kunjung datang dan ….

Tahun demi tahun berlalu. Puti Mani memutuskan untuk menjemput lelaki si pengangkut beban dengan seratus batang kelapa. Oleh lelaki yang menerima jemputan, seratus batang kelapa itu segera dihibahkan kepada adik perempuannya. Tapi setelah lama menikah dan dikaruniai empat orang anak, mereka mesti bercerai karena lelaki itu tak kunjung memberikan anak perempuan yang didambakan. Setahun setelahnya, Puti Mani menjemput lelaki pedagang—yang juga pernah ditolaknya karena meminta sepuluh batang kelapa sebagai jemputan. Sebagai bentuk penyesalannya, Puti Mani pun memberi lebih. Ia menawarkan dua ratus batang kelapa sebagai jemputan dan kelapa jatuh bersambut. Oleh lelaki itu, dua ratus batang kelapa yang diterimanya sebagai jemputan, diberikan pula kepada dua ratus orang di Riak Mamacah. Tapi kenyataannya, lelaki itu jauh lebih buruk. Puti Mani lebih menyesal. Meskipun mahir berdagang dan mempunyai banyak langganan di kampung seberang, lelaki itu tak pernah sanggup memberi keturunan.

“Kau mestinya bersabar, Puti,” nasihat ibunya.

“Kesabaran tak bisa memberikan anak perempuan, Bu.”

“Seharusnya, kau itu meneladaniku. Aku terus bersabar, terus mempertahankan lakiku, terus mengandung hingga sebelas kali sampai aku melahirkanmu!”

“Buat apa mempertahankan lelaki yang selangkangannya tak rutin bergerak, Ibu! Seharusnya, Ibu memaksaku lebih keras ketika Sambiludin menanyaiku. Andai waktu dapat kembali ….”

Sampai pada suatu hari, Puti Mani mulai melupakan keinginannya untuk kembali berumah tangga. Sehari-hari, ingatannya mau tak mau hanya tertuju kepada Sambiludin—lelaki yang barangkali, pikirnya, bisa menelanjanginya sepanjang malam dan memberikan anak perempuan di suatu pagi. Akan tetapi, lelaki impiannya itu sudah tak tahu rimbanya dan tidak memungkinkan untuk kembali.

Ia kembali mengurusi pohon kelapa dengan membayar belasan pemanjat pandai untuk memetik kelapa dari tandannya. Sambil mencabuti rumput-rumput liar di pinggir ladang, sekonyong perempuan itu mendengar sesuatu yang tak henti berdentum—seperti buah kelapa yang terus berjatuhan dari tandannya.

Puti Mani lekas berdiri, lantas berlari menuju suara. Ia menyusuri jalan setapak, lalu menyibak semak dan menyeruduk masuk ke ladang yang ditumbuhi seratus pohon kelapa. Ladang itu adalah pemberiannya kepada lelaki pengangkut beban—yang kemudian menyerahkannya ke adik perempuannya, yang separuhnya diberikan si adik perempuan kepada seorang lelaki sebagai jemputan, yang tak lain adalah lelaki yang pernah hilang bagai tertelan, yang kini telah mampu memetik seribu buah dalam sehari, tanpa menyentuh batang kelapa.

“Turun.” Sambiludin menggumpal temali, lalu kembali mengulur sesaat peliharaannya berdiri di lain tunggul. “Kembali panjat! Jatuhkan yang masak dan sisakan yang belum matang!”Beruknya kembali memanjat, dan dalam waktu singkat, beruk itu telah berada di antara bulatan berpeluk pelepah. “Ya! Putar ke kanan atau pelintir ke arah kiri!” Beruk memelintir buah dengan cekatan, dan dalam waktu singkat: bum! Air mata Puti turun bersama kelapa yang jatuh berdentum.

Riwayat Publikasi:
Pemenang II Sayembara Menulis Cerpen Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat 2016