atuk-berselimut-meja-makan-cerpen-boni-chandra
Ratih (Foto: Ijot Goblin)

Siapa pun yang mengenal Atuk, tentu sudah mengetahui bahwa ia begitu enggan bercerita. Ia hanya mau berbicara di meja makan, di hadapan bini dan anak gadis satu-satunya. Namun, sejak anak gadisnya menikah, Atuk sudah mulai enggan ke meja makan. Sesekali, ia memang bergabung. Tapi sekadar menjaga hubungan dengan bininya yang maha perungut, agar tak lagi bersungut di dalam bilik bila malam balik menjelang. Pun, kehadirannya tak lagi tampak seperti pemimpin obrolan di meja makan. Atuk hanya menyuap nasi dan meneguk air, lalu lekas berdiri—bila menantu barunya sudah mulai membuka kata.

“Tadi malam, ambo (saya yang angkuh) pergi ke lepau dan tak sengaja bersua dengan Tek Nur.”
Atuk telah hilang tertelan dapur.

“Apa kata Tek Nur, Uda?” Ratih mengambil sesikat pisang serai, lalu menghidangkannya pada Kalaba, lakinya, yang bekerja sebagai penebang kayu.

“Tek Nur berencana pula membuat lepau. Sementara untuk membuat lepau, tentunya Tek Nur membutuhkan papan juga kasau. Beliau,” Kalaba memelintir pisang dari sikatnya, menanggalkan kulit, lalu mengunyahnya, “telah menjanjikan upah besar, untuk setiap batang kelapa yang akan ditebang.”

“Oh, itu kabar yang baik, Uda.”

Atuk telah keluar dari dapur, tapi berlalu diam seraya menggenggam dua butir telur. Ia bukan tak mendengar. Hanya risi, bila mendengar kata-kata Kalaba tentang kelapa. Ah, Kalaba memang terlalu sering menebang kelapa. Sementara Atuk, telanjur menggantungkan hidupnya dari hasil memetik kelapa.

“Ya. Semakin banyak papan dan kasau yang diperlukan, tentunya akan semakin baik. Sebab semakin banyak pohon kelapa yang ditebang, semakin banyak pula upah yang harus Tek Nur bayarkan.”

Atuk mulai mengulurkan dua butir telur untuk beruknya—peliharaan yang selalu ia pautkan di batang jeruk. Disamping memberikan sesayak nasi dua kali sehari, ia memang rutin mengulurkan dua butir telur, agar peliharaannya itu, semakin bergiat memetik kelapa. Sesekali, ia terlihat seperti bercerita dengan beruknya. Tapi ini kali, Atuk memilih diam, memiringkan telinga—menguping percakapan yang masih berlangsung di meja makan.

“Barangkali, Tek Nur ingin menyaingi lepau lain, disamping menambah kekayaan dari hasil berlepau. Tapi, tentu tak ada salahnya, selama ia menggunakan pohon kelapa sebagai bahan. Pohon kelapa mudah ditebang. Tak sekeras jati dan trembesi. Tak sulit dicari. Ada di ladang, di tepi jalan, bahkan di halaman rumah.”


Dulu, Atuk ingin menarik Lembai sebagai menantu. Lelaki itu pekerja keras, disamping berbudi baik dan selalu menghargai orang-orang yang lebih tua. Lembai satu-satunya anak muda, yang tak pernah malu meski bekerja sebagai pabaruak (panggilan untuk tuan beruk; orang yang bekerja sebagai pemetik kelapa dengan menggunakan jasa beruk).

“Dalam sehari, beruknya bisa menjatuhkan kelapa sebanyak empat sampai enam ratus buah. Dia akan mendapat sepersepuluh sebagai upah. Disamping itu, dia cakap pula melatih beruk yang belum mahir memetik kelapa. Tentu akan ada bayaran, setidaknya basa-basi, dari orang-orang yang sesekali datang melatih peliharaan.” Atuk menasihati Ratih, itu hari.

Namun, anak gadisnya itu telanjur menaruh hati kepada Kalaba. Lagi pula, Ratih tak ingin bersuami tukang beruk. Terlebih bila membayangkan suaminya juga berkeliling mendorong gerobak—yang di atasnya bersimpuh seekor beruk, kapak, dan taji besi. Lalu turut mengerang dari satu kampung ke lain kampung, menawarkan jasa memetik kelapa seperti bapaknya.

Ah, Atuk sangat tersinggung! Bagaimana tidak. Bagaimana mungkin, anak gadis yang begitu ia harapkan, yang selama ini ia besarkan dari hasil memetik kelapa, tiba-tiba saja menghina pekerjaannya. Tapi, apa lagi yang hendak dikata. Kelapa telanjur jatuh dari tandannya!


Di lain malam, bininya kembali merungut di dalam bilik. Dia balik bersungut perihal adab dan sopan santun. Bahwa betapa tak beradab dan tak sopan lakinya—tak menghargai menantu, karena memperlihatkan ketidakbetahan di meja makan.

Ah, Atuk memang sering memisah saat makan. Di dapur kadang. Kadang di dalam kamar, di teras rumah, bahkan pernah pula bersandar di batang jeruk—menyuap nasi di hadapan beruk.

“Tampaknya, Uda lebih menghargai beruk ketimbang menantu. Menegurnya pun, Uda tampak enggan. Apalagi mendengarkan Kalaba bercerita!”

Atuk mengambil guling. Lantas meletakkan guling itu di antara tubuhnya dan badan bininya. Kemudian menarik selimut dan berkelumun sampai matanya bisa terpejam.


Pagi ini, Atuk telah kembali ke meja makan. Semula menambuhkan nasi, lalu menguahinya dengan gulai talas yang terhidang. Atuk melirik rendang. Tapi tak pernah sampai dalam jangkauan—tak bisa menyentuh, karena setiap akan meminta, Kalaba akan balik bertambuh.

Atuk menyuap nasi dalam renungan. Sesekali meneguk air seraya merunut rencana. Bahwa ia akan segera berdiri setelah makan, mengambil dua butir telur untuk beruknya dan pergi ke kebun Tek Nur.

Petang hari, Tek Nur memang telah mengabari perihal anak bungsunya yang akan menikah. Sebagai rang kayo rayo (sebutan untuk seseorang yang memiliki harta berlimpah), bukan kejutan bila Tek Nur akan menggelar pesta besar-besaran. Dia akan membutuhkan banyak kelapa—seribu buah kurang lebih; dan Atuk, akan memulainya setelah makan. Atuk akan memetikkan kelapa dan tak akan berkata barang sepatah pun. Baginya, kata-kata sekadar perintang waktu. Terlebih mendengar cerita berlebihan menantu baru!

“Lebih baik, Bapak berhenti saja jadi pabaruak. Pekerjaannya sulit. Upahnya pun tak seberapa,” ujar Kalaba.

Atuk menyuap nasi, mengunyahnya berlama-lama, meneguk air, lalu berlagak pekak dengan menyuap kembali.

“Pak? Sahutlah pembicaraan Uda,” Ratih menegur Atuk.

Atuk meremas nasi, lalu menyumpalkannya ke dalam mulut. Kemudian ia membuang muka. Sesaat bininya mematut masam.

“Hidup berberuk terbilang susah, Pak. Jangankan untuk menuruti kehendak anak. Untuk makan sehari saja, alangkah payah. Lagi pula−”

“Usahlah kau banyak cerita!”

“Memang kenyataannya demikian kan, Pak? Lembai misalnya. Dia tetap bersikukuh menjadi pabaruak, dan akibatnya, tak ada seorang pun yang sudi menariknya jadi menantu. Ah, betapa bodohnya! Siapa pula yang hendak bermenantu pemetik kelapa!”

Atuk menoleh cepat, lalu mematut Kalaba seperti seekor beruk mematut kelapa—hendak memelintir menjatuhkannya! Tapi, ah! “Kau sungguh tak tahu diuntung! Binimu itu, mungkin telah mati kelaparan bila tak den (saya yang kasar) hidupi dari hasil bekerja sebagai pabaruak!”

Kalaba mengalah, merunduk. Begitu pula dengan Ratih. Ia tak sanggup bicara walau sepatah. Hanya bininya yang bertanya dengan nada rendah sesaat Atuk mulai berdiri. “Uda hendak kemana? Habiskan dululah nasinya.”

Atuk mengurut dada, memandang sejenak mata istrinya, lalu mengalih pandangan menuju Ratih. Rasanya, baru kemarin anaknya itu berseragam sekolah. Merengek diantar dan meminta dijemput bila pulang. Dia enggan pergi dari rumah dan tak akan pulang dari sekolah, bila tak dijemput dengan gerobak—bersimpuh di belakang beruk, di antara kapak dan taji besi.

“Anak Tek Nur akan menikah minggu depan. Dia akan berpesta besar-besaran dan akan mengundang ribuan orang. Dan kemarin, dia meminta bantuan awak (saya yang halus dan rendah hati) agar dipetikkan seribu kelapa.”

“Assalammualaikum.”

Pandangan seketika teralih menuju pintu. Di sana, perempuan renta tengah berdiri—sedang merapikan tengkuluk, dan tampaklah lingkaran emas yang melungsur ke kedua sikunya: Tek Nur. “Aduh, beruntunglah Atuk belum berangkat. Ambo hendak mengabari bahwa setelah pesta, kami juga berencana memperlebar rumah. Tentunya, kami membutuhkan batang kelapa disamping buahnya. Jadi, kelapa tak jadi dipetik, Tuk. Cukup diambil saja usai ditebang.”

Atuk hendak memandang bini, anak, dan menantu. Tapi tak satu pun yang akhirnya ia toleh. Tidak Ratih dan tidak pula bininya. Terlebih Kalaba. Matanya seperti lumpuh—tak dapat bergerak, tak teralih dari Tek Nur sampai tangannya mengusap dada. Atuk meringis, lalu memandang jauh sebelum jatuh.


Terperanjat suara. Terpandang ruang di temaram cahaya. Atuk memejamkan mata. Mengingat entah. Lalu mematut atas berlama-lama. Menoleh kiri, usai menutup dan kembali membuka mata. Ada dinding. Ada pintu. Dan lemari kayu. Ada pula sebuah lentera tanpa kaca, yang terus mengerjap karena entah. Atuk mengusap dada. Meraba pening di urat kepala. Menggapai sisi kemudian. Menjamah guling. Memastikan keberadaan.

“Bagaimana menurut Ibu?”

Kupu-kupu mengepak sayap. Tak ada dinding. Pun pintu dan lemari kayu. Lentera telah padam. Pudur karena kepakan. Kali ini hanya suara. Kata-kata dalam cerita.

“Ini keputusan sulit, Ratih. Apa pula kata tetangga bila tahu.”

Atuk mulai memandang di dalam kelam. Ia seperti sedang melihat gadis kecil—nan tampak manis berseragam sekolah, nan kemudian minta dijemput usai diantar, yang akan merasa senang dan tampak bangga bila dinaikkan ke atas gerobak—tersenyum-tertawa di belakang beruk, dan turut berteriak di sepanjang jalan.

“Tapi, baunya itu lo, Bu.”

Atuk sedang mendengar suaranya. Suara gadis (yang tak lagi) kecil. Kali terakhir, gadis itu hanya tertunduk. Tak bisa bicara walau hanya sepatah kata. Atuk mengusap dahi berkerut. Mengurut kening, meraba balik pening kepala.

“Aduh!” Terdengar suara Kalaba.“Ambo lupa, Bu. Ambo sungguh lupa memberi tahu, Ibu. Kemarin, usai menebang puluhan batang kelapa dan mengolahnya menjadi papan, telah ambo surukkan beberapa helai. Rencana ambo, papan itu akan dibuatkan menjadi pondok kecil di belakang rumah. Mungkin, kita bisa memindahkan Bapak begitu selesai.”

Atuk terperanjat dalam kelam. Pikirannya seketika teralih pada Ratih, anak gadisnya yang betapa dulu ….

“Lagi pula, baik di rumah maupun di pondok, awak rasa tak ada ubahnya, Bu,” Ratih menambahkan.“Ibu tentunya bisa melihat. Sejak kami menikah, entah dua atau tiga kali saja, Bapak mau bergabung ke meja makan.”

“Dan ambo rasa, papan itu masih akan berlebih, Bu. Ambo bisa pula membuatkan sebuah meja makan untuk Bapak. Bagaimana menurut Ibu?”

Atuk mulai mengerjap di dalam gelap. Menahan napas, sambil menunggu pembelaan bini dan … “Baiklah. Ibu setuju.” Perlahan, Atuk menarik selimut, berkelumun, lalu membayangkan beruk, kelapa, pondok, dan sebuah meja makan—seraya menahan erangan di dalam kelam.

Riwayat Publikasi:
Pemenang II Sayembara Penulisan Cerita dari Kampung di Universitas Mataram 2015
Dimuat di Singgalang Minggu, 29 November 2015