cerpen-batu-yang-terus-berjatuhan
Foto: Erison J Kambari

Setelah kematian, masih ada kesempatan yang disediakan Tuhan untuk pengampunan. Kesempatan itu pun akan diturunkan secara bertahap, seperti batu-batu yang dijatuhkan dari jemari. Mulai dari malam ketiga, malam ketujuh, malam keempat belas, malam keempat puluh, dan malam keseratus setelah kematian. Namun, kesempatan itu sudah tak dapat ditawar. Itu sudah menjadi ketentuan!


Begitulah. Tak ada seorang pun yang dapat menjelaskannya selain Tuk Angku. Batu-batu itu masih berjatuhan. Akan terus berjatuhan dari rumah duka menuju bilik-bilik yang tertinggal mati. Malam ini untuk ayahku dan esok malam buat ayahmu.

Ya. Ayahku mati seratus hari yang lalu. Disusul kematian ayahmu sehari kemudian. Sepanjang hidupnya, mereka mengabaikan dosa besar karena menaruh dendam. Keduanya tak pernah sembahyang. Tak pernah pula berbuat kebaikan. Sementara itu, baik aku maupun kau, telah mengetahuinya sejak lama. Menurut kepercayaan yang telah kita warisi turun-temurun, orang-orang seperti mereka akan mendapat siksaan di alam kubur, lantas dibenamkan ke kerak neraka di alam baka. Tapi menurut Tuk Angku dan kepercayaan lain yang juga mesti kita warisi—ayahmu akan mendapat pengampunan di alam barzakh, dan hampir dipastikan, ia akan meraih sebuah tempat di alam surga. Sementara ayahku, belum tentu.

Kau pun tahu. Tak ada seorang pun yang dapat menyangkal kepercayaan yang dianut Tuk Angku. Itu sudah menjadi tradisi. Bahwa setelah kematian, mesti ada batu-batu yang dijatuhkan demi pembela si mati selama hidup. Masalahnya, tidak semua ahli waris yang mampu melakukannya. Itu ritual mahal. Si kaya bisa berbuat dosa selama hidup dan akan mendapat pembelaan setelah mati. Sementara yang lain, hanya mengharap kemurahan Tuk Angku dan batu-batunya. Mengharapkan agar batu-batu itu terus berjatuhan di rumah-rumah yang masih terpekik tertinggal mati. Seperti yang kauketahui, batu-batu itu akan jatuh di rumahku malam ini—untuk ayahku.

“Assalammualaikum.”

Aku mengalih pandangan menuju pintu. Di sana, seorang lelaki bungkuk berjenggot putih tampak membenarkan posisi kambut pada bahunya: Tuk Angku. “Masuklah, Tuk,” kataku, lalu kubuang pandangan pada orang-orang yang telah menunggu sedari senja. Sebagaimana yang telah kauketahui, lelaki tua itu adalah orang yang paling diharapkan kehadirannya pada malam-malam kematian. Tanpanya, tiada batu yang berjatuhan pada malam-malam yang ditentukan.


Dua hari yang lalu, biniku telah menggadaikan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Dia bilang, kami mesti membeli rantang, batangan tebu, di samping lain-lain sebagai hidangan. Dan dia baru saja memberitahuku, mengatakan apa yang telah digadaikannya untuk itu.

Ya. Begitulah kepercayaan lain yang juga mesti kita warisi. Di malam ini, pada malam keseratus setelah kematian ayahku, kami pun mesti menyedekahkan sebuah rantang pada setiap orang yang datang. Masing-masing rantang berisi sekilo beras, dua ruas tebu, sepiring nasi, dan lauk-pauk. Kata Tuk Angku, itu bagian ritual yang paling penting pada malam penutupan. Dosa si mati akan terhapus, akan hilang tanpa bekas setelah orang-orang yang datang membawa pulang lalu menghabiskan isi rantang.

“Apa sudah bisa dimulai, Tuk?” tanya salah seorang yang telah menunggu sedari senja.

Dari salah seorang pengikutnya, Tuk Angku menerima sepasang piring besi—yang satu kosong, yang satunya lagi berisi abu dan bara yang menyala. Lelaki tua itu segera menabur kemenyan ke atas bara.

“Bismillahirrahmanirrahiim….” Tuk Angku memulai selawat sembari memejamkan mata. Dari kambut yang masih tersandang pada bahunya, dia mengeluarkan sebutir batu kecil berwarna hitam, menggenggam erat, lalu mengucapkan, “Lailahaillallah!”

Orang-orang yang telah datang menjelang malam, serentak menyeru—mengucapkan kalimah yang sama sampai tiga puluh tiga kali. Setelah kalimah itu diucapkan sampai tiga puluh tiga kali, maka: satu batu kecil berwarna hitam, akan dijatuhkan ke dalam piring besi.


Kita mulai bertemu setelah tiga hari kematian ayahku. Pagi itu, ibuku masih bersikukuh menawar harga beras. Ke penjual beras itu, ibuku mengatakan bahwa beliau baru saja membeli santan, buncis, rebung, bumbu masakan, dan mesti melengkapinya dengan lima belas kilo ikan, lima belas kilo daging, dan beberapa lapik telur. Penjual beras bergeming; ibuku memelas.

“Tolonglah. Nanti malam, kami akan melangsungkan doa pengampuan di malam ketiga kematian suamiku.”

Melihat ibuku yang diperlakukan seperti pengemis, aku ingin sekali menjumpai penjual beras, memakinya, lalu melemparkan selembar uang seratus ribu ke wajah angkuhnya. Tapi, uang kertas di tanganku itu juga akan digunakan untuk menjamu orang-orang yang datang pada malam—yang selepas isya, akan berdatangan untuk minum dan makan-makan, lalu ber-shalawat panjang—semacam doa yang didendangkan demi ketenangan ayahku di alam barzakh.

Aku mulai melangkah, meninggalkan Ibu yang masih bersabar menawar harga. Sambil meremas uang kertas di genggaman, terus kulangkahkan kaki di Pasar Takung. Tak lama, aku menemukan sebuah toko yang menjual susu, teh, kopi, dan gula. Tapi di toko itu, aku juga melihat lelaki pendek bertubuh gemuk—yang kuketahui kemudian: kau—setelah mendengar bisikan bahwa kita adalah keturunan dari dua lelaki yang selalu berseteru.

“… Laillahaillalah.” Teng! Batu kecil berwarna hitam yang pertama telah dijatuhkan. Tapi masih ada sembilan puluh sembilan batu lagi yang mesti dijatuhkan ke dalam piring besi. Ini malam keseratus setelah kematian ayahku, yang ditandai dengan menjatuhkan seratus butir batu.


Konon, ayahku dan ayahmu telah mewarisi permusuhan dari orangtua masing-masing. Persis ayahmu yang mewariskan kudanya padamu dan seperti ayahku yang melarangku agar tak menyaksikan pacuan kuda. Kau, tentu saja sudah mendengar bisikan di pagi itu. Atau bisikan-bisikan lain yang terus berkembang kemudian. Akibatnya, kau pun merantai dendam—membujuk Tuk Angku, merayunya agar tak menjatuhkan batu-batunya di dalam rumahku!

“… illahaillallah.” Teng!

Aku memandang Tuk Angku. Bagaimana mungkin batu-batu yang dijatuhkannya itu mampu membela setumpuk dosa? Tapi, begitulah. Katanya, selama kaum yang ditinggalkan ber-shalawat dendang dan menjatuhkan tiga batu kecil berwarna hitam pada malam ketiga; tujuh batu pada malam ketujuh; empat belas batu pada malam keempat belas; empat puluh batu pada malam keempat puluh; dan seratus batu di malam ini—Tuhan akan membebaskan si mayat dari siksaan para malaikat, lalu menjanjikan surga pada setiap rantang yang disedekahkan.

Baik ibuku, aku, maupun biniku, telah mengorbankan segalanya demi suami dan ayah bagi kami. Tapi, ibuku hanya dapat bermenung saat Tuk Angku membatalkan kedatangannya di malam ketiga. Ibuku mengurut dadanya pada malam ketujuh; bertanya-tanya pada malam keempat belas; lantas menangis, meraung-melulung pada malam keempat puluh—karena di malam-malam itu, tak sekalipun Tuk Angku menjatuhkan batu-batunya di rumah kami.

Padahal, pada pagi menjelang malam ketujuh, ibuku telah mengunjungi toko emas sebelum berbelanja. Beliau mesti merelakan harta tersisa pada kupingnya, demi memenuhi jamuan untuk malam itu. Sementara untuk jamuan yang sama pada malam keempat puluh, biniku melungsurkan gelang dan memberikan kalung emas pada lehernya. Bahkan, cincin yang pernah kusematkan di jari manisnya, terpaksa ia gadaikan untuk malam itu—demi menanti kehadiran Tuk Angku dan batu-batunya, demi orang-orang yang kami harapkan terus berdendang demi suami dan ayah bagi kami.

“… illahaillallah.” Teng! Entah itu batu keenam belas, ketujuh belas, atau masih hitungan kelima belas. Aku tak lagi menghitung. Pendengaranku masih teralih ke suara lain, pada bisikan Pasar Takung yang terus berkembang, yang menyatakan bahwa kaulah yang membatalkan empat malam berarti di kematian ayahku. Kabarnya, kau telah membujuk Tuk Angku, membayarnya tiga kali lipat dari yang seharusnya kami bayarkan dan, “… llallah.” Teng!


Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua. Mataku sungguh terkantuk meski tak sepicing pun dapat terpejam. Ini semua karena kau, Tuk Angku, keinginan, ketidakberadaan, dan kepercayaan pada batu-batu yang terus dijatuhkan. Tadi malam, pikiranku larut bertandang. Mataku tak kunjung terpejam, karena, apa lagi yang mesti kami gadaikan demi memenuhi hidangan yang lebih besar pada malam keseratus. Apa yang mesti kulakukan agar lelaki tua ini bersedia datang dan …. Di antara keberuntungan dan kemalangan yang melilit pinggang, biniku tiba-tiba terjaga dan memberikan sejumlah uang.

“Pagi ini, biar aku saja yang menemani Ibu ke Pasar Takung.”

“Bagaimana dengan anakmu?” tanyaku. Anak kami baru berusia belasan hari. Siapa yang mengasuh, siapa yang menjaganya bila biniku ke Pasar Takung?

“Itu urusanku. Kau pergi saja menemui Tuk Angku. Bujuk dan berikan uang ini agar dia bersedia datang,” katanya, sambil menyerahkan sepuluh lembar uang seratus ribu.

“… illahaillallah.” Teng! Entahlah itu batu keberapa. Malam menuju larut dan lututku lelah tertekuk. Sedari isya, aku telah duduk bersila di antara orang-orang yang barangkali, juga telah lelah menekuk lutut. Mereka masih menyeru. Sementara Tuk Angku, masih saja memejamkan mata, mendendangkan shalawat seraya menggelengkan kepala.


Ayahku mati seratus hari yang lalu. Disusul kematian ayahmu sehari kemudian. Pagi itu, entah dari siapa, ayahku mendengar kabar tentang pacuan kuda di Kubu Gadang. Katanya, sudah terlalu lama tak menonton pacuan kuda, lalu minta diantarkan. Aku menolak, lantas memperingatkan. Sudah kukatakan pula bahwa ayahmu akan menjadi tamu kehormatan di tempat itu. Tapi, ayahku tetap saja bersikeras.

Seperti yang sudah diketahui semua orang, ayahmu itu memberhalakan kuda. Dia memiliki sekumpulan kuda, dan selalu mempertaruhkannya di Kubu Gadang. Tapi di luar dugaanku, hari itu kudanya kalah—tertinggal jauh dari beberapa kuda yang keluar sebagai juara. Ayahmu tampak kesal. Dia mulai memaki, bercarut-carut sambil menyalahkan para penunggang. Di saat bersamaan, ayahku yang berdiri tepat di belakang ayahmu, melepas tawa, lalu melempar ejekan pada kuda-kuda yang diberhalakan. Pertengkaran tak terelakkan. Semula adu mulut. Lantas, ayahku hilang kesabaran sesaat ayahmu meludahi wajahnya.

“… haillallah.” Teng!

“Itu hitungan keberapa? Ketujuh puluh atau masih enam puluh?”

Tepat di sebelahku, dua pengikut setia Tuk Angku saling bertanya—mulai lupa hitungan keberapa. Sementara Tuk Angku masih memejamkan mata, bersikeras merogoh kambutnya, lalu menggenggam batu kecil berwarna hitam seraya menggelengkan kepala—sesekali memang terangguk, tapi tak terjamah kantuk.

“Aku kira, Tuk Angku sudah terkantuk.”

“Ya. Rupanya tidak. Padahal, ini kali ketiga Tuk Angku berlarut malam. Tadi malam, ia menjatuhkan empat belas batunya di kampung sebelah. Sementara malam sebelumnya, menjatuhkan empat puluh batu pula di rumah duka di dekat Pasar Takung.”


Ayahku mencengkeram ayahmu yang berwajah licik, meremas merihnya, lalu mengempaskan tubuhnya yang kecil ke pagar tembok yang mengelilingi arena pacuan kuda. Ayahku belum puas. Ia lantas mencengkeram pundak ayahmu sebelum bangkit, kemudian membenturkan kepala lelaki itu berulang-ulang. Selaku anak dari lelaki yang tampaknya akan menang, aku hanya berpangku tangan di tengah kerumunan, menyaksikan perkelahian dua lelaki seolah memandangi ayam aduan.

“… Laillahaillallah. Laillahaillallah. Laillahaillallah.”

Tuk Angku masih memejamkan mata. Tapi tak lagi menggeleng, tak terangguk, dan tidak menjatuhkan batu kecil berwarna hitam setelah hitungan ketiga puluh tiga!

“Laillahaillallah. Laillahaillallah …” Pengikut setia Tuk Angku terus mendendangkan shalawat, meski tak lagi terdengar bersemangat. “… illahaillallah. La ….”

“Maaf, Tuk Angku.” Salah seorang yang tadi berbisik seketika menyela, dan shalawat sejenak terhenti. “Ini kali kedua hitungan ketiga puluh tiga yang tak dihitung. Seharusnya, Tuk Angku telah menambahkan dua batu lagi ke piring besi.”

Teng! Teng! Teng! Tuk Angku menjatuhkan tiga. Lalu balik memejamkan mata seraya menggelengkan kepala.


Dan, sungguh. Aku tak bisa melupakannya. Orang-orang terus berdatangan seperti kuda-kuda yang lepas dari kandangnya. Pagar tembok putih yang mengelilingi Kubu Gadang, seketika memerah karena darah. Ayahku terus membenturkan kepala ayahmu sampai lelaki picik itu berbalik—mencuri satu kesempatan untuk mengambil pisau yang tersarung pada pinggangnya, lantas menusuk ayahku berulang-ulang!

“… illahaillallah …” Teng! “… illahaillallah ….” Teng! Teng! Teng! Teng! Ah, maklumlah. Waktu sudah menunjukkan pukul empat!


Ayahku telah mati; ayahmu pun menyusul mati; dan anak kami, katakanlah: mati. Anak itu sudah digadaikan biniku demi hidangan, demi dendam, demi Tuk Angku, dan batu-batu. Tapi kematian belum melerai dan dendam mesti dirangkai. Tiga hari ke depan, Tuk Angku kupastikan datang dan batu-batu itu akan kembali berjatuhan. Kematian akan memilih. Di rumahku, atau di rumahmu! (*)

Riwayat Publikasi:
Dimuat di Harian Haluan, 11 September 2016