Penulis adalah salah satu profesi yang paling berisiko. Salah satu risikonya ketika ia mendapati beberapa pertanyaan tak penting yang pada akhirnya menimbulkan risiko lain bila ia enggan memberi jawaban. Untuk itu, saya mulai mengumpulkan beberapa pertanyaan, memilih, dan mencoba menanyakannya kembali kepada beberapa rekan penulis. Kali ini, Arung Wardhana Ellhafifie akan menjawab 6 pertanyaan tak penting yang sering diajukan pada penulis:

1. Apa yang mendorong Anda untuk menyelesaikan sebuah karya?

Dorongan yang paling besar saya untuk menyelesaikan sebuah karya lebih kepada motif kritis, motif isu, motif narasi sehingga ketika ketiga motif itu saya pegang, maka dengan sendirinya ada tanggung jawab terhadap teks yang ingin dikritisi; isu yang dibicarakan atau pun narasi yang dibangun ke publik agar dialektika sastra dan budaya terus dinamis secara individual.

2. Menurut Anda, apa standar sukses dari seorang penulis?

Bagi saya standar yang paling penting bagi seorang penulis bagaimana tanggungjawab penulis itu sendiri dalam mengejewantahkan teksnya dengan lingkungannya, dengan publiknya. Bisa menjawab narasi-narasi, isi, kritis dengan caranya sehingga publik melakukan pembacaan teksnya dengan cara beragam. Sebutlah hanya segelintir dari pembacanya; namun isu yang diungkapkan terus mengalami perkembangan terlepas dari suka dan tidak suka. Namun cukup mengganggu publik, khususnya pada narasi yang dibahasnya.

3. Di mana tempat yang paling sering Anda gunakan saat menulis dan kapan waktu terbaik Anda untuk menulis?

Saya bukan orang yang sangat privat sehingga tidak memerlukan tempat yang sepi, atau kamar yang sangat privasi terhadap orang-orang di sekitarnya. Maka saya tidak perlu menulis dalam kamar mandi, atau juga dalam goa, atau di atas langit ketujuh misalnya, atau mungkin di bawah tanah, atau juga di apartemen anti kiamat. Saya cukup menulis di ruang-ruang terbuka, di ruang publik sekalipun. Misalnya di warung kopi, taman gelanggang remaja, pendopo kampus, terminal, stasiun kereta, bandara, cafe, tongkrongan, markas besar seperti sudut ruang gerobak gelanggang remaja Jakarta Timur, atau di bawah kaki gunung, lobby hotel, dan lain sebagainya.

Saya juga tidak punya waktu yang khusus dan terbaik karena mengganggap kebaikan terbaik adalah pikiran kita saat kita melakukan hal yang baik. Maka di saat tubuh dan pikiran saya sedang baik, disegerakanlah menulis karena keadaan linglung dan saat mau bunuh diri juga tidak baik untuk menulis. Bahkan saat mau menjahanami pasangan juga rasanya tidak tepat untuk menulis karena pikiran saat itu secara umum mungkin kurang baik.

4. Apa yang Anda lakukan bila mengalami kebuntuan saat menulis?

Karena pada dasarnya saya menulis dalam kondisi tubuh dan pikiran sedang baik secara umum, ketika saya mengalami kebuntuan maka saya akan melakukan hal-hal yang tidak baik terlebih dulu. Barangkali mengkhayal sesuatu yang banal, menonton film semi porno sebanyak-banyaknya; secara art karena itu juga menjadi asupan energi, atau berbicara panjang lebar dengan pasangan, berbicara yang banal dan jorok, atau mengajak teman-teman yang bisa memantik pikiran. Barangkali hanya satu atau dua orang yang bisa memantik dalam proses karya dalam kebanalan; atau memang tidak ada sama sekali. Justru saya lebih membutuhkan kehadiran binatang daripada manusia, karena manusia secara umum menghadirkan pertentangan. Maka kebuntuan itu juga semakin rumit ketika berhadapan dengan manusia juga.

5. Apa motivasi Anda saat menerbitkan sebuah buku dan apa alasan Anda saat membeli sebuah buku?

Karena hidup itu sebagai data yang melengkapi sejarah hidup orang lain yang dipandang punya sejarah, atau hanya lewat begitu saja ketika memang tidak berarti bagi orang lain. Barangkali penerbitan sebuah buku hanya sebagai data individual untuk menjaga kematian yang selalu merenggut kita semua. Paling tidak karya yang diterbitkan punya narasi, isu, atau catatan kritis terhadap lingkungan atau manusia. Sekalipun karya itu menjadi sampah dan tidak pernah dibicarakan sama sekali sepanjang hidupnya (apalagi saat kematiannya), paling tidak Tuhan cukup tahu apa yang kita lakukan.

Sejatinya, tidak selalu manusia yang mengerti karena (barangkali) Tuhan tidak menakdirkan kita untuk dimengerti manusia, barangkali binatang, malaikat, dan nabilah yang mengerti kita. Dan satu alasan yang jelas untuk membeli buku; karena pada saat punya uang, satu-satunya yang dibutuhkan karena memang dalam realitas manusia beragam kebutuhan. Saya tidak membutuhkan apa-apa selain makan dan berpengetahuan, berpendidikan, maka hal itu menjadi primer.

6. Buku siapa yang paling berpengaruh dalam proses penulisan Anda dan bisa ceritakan sedikit tentang buku tersebut?

Saya hanya bisa mengungkapkan pengaruh yang dimaksud dalam proses penulisan, bukan pada persoalan teknik, gaya, pemilihan tema. Di sisi lainnya, saya tidak terlalu memahami pertanyaan ini dan rasanya tidak terlalu penting. Meski pun semua pertanyaan ini tidak sangat penting dan ingin menggantinya dengan pertanyaan lain atau memang sengaja dikosongkan saja. Tapi sudahlah! Saya anggap ini konstruksi yang memang dibutuhkan untuk menjadi penting dan tidak penting.

Jawaban saya: saya tetap tidak meyakini salah satu pengarang sekalipun, karena banyak pengarang yang berlalu begitu saja dalam kepala, berlarian, dan saling mengumpat antara satu lainnya. Bahkan penulis stensilan sekalipun ada di kepala saya; berlabuh intim dengan otak saya. Kalau saya juga mengatakan buku ciptaan Tuhan yang mempengaruhi; maka terkutuklah tubuh karena secara pribadi saya tidak ingin disesatkan dengan moral-moral yang baik, tapi nyatanya juga bangsat dan babi.

gidher
novel-gidher

Arung Wardhana Ellhafifie

Arung Wardana Ellhafifie lahir di Bangkalan, 12 Januari 1981. Sejak tahun 2002, ia menekuni kesenian dan kesusastraan sebagai aktor, penulis naskah dan sutradara, selain terlibat di beberapa proyek penulisan. Novelnya yang berjudul Gidher (Ladang Pustaka, 2017), menceritakan tokoh Aku yang mengalami kemerosotan mental dan menjadi setengah gila karena kekasihnya akan dijodohkan dengan sesama keturunan bangsawan. Umpatan, makian, dan bahasa-bahasa vulgar berhasil ia jadikan sebagai pemanis novel yang diselesaikannya dalam kurun waktu satu tahun. Pendiri Teater Bangkang ini mengatakan, banyaknya bahasa-bahasa vulgar di dalam Gidher hanya untuk memperkuat karakter tokoh utama. Sebelum menerbitkan novel tersebut, ia mencoba menghilangkan beberapa bagian vulgar di dalam Gidher dan pada akhirnya: ia seperti kehilangan tokoh utama yang sebelumnya telah berusaha keras ia tonjolkan.

Di samping sebuah novel, ia juga menerbitkan buku cerita anak yang berjudul Gambir (Bitread, 2017), kumpulan naskah lakon Tubuh-tubuh Tompang Tresna (Bitread, 2017), dan dua buku kumpulan puisi tunggal yang bartajuk Mampus dan Mancok yang diterbitkan Pustaka Ranggon pada tahun 2018. Pada tahun 2016, naskah lakonnya yang berjudul Carok, berhasil membawanya ke panggung sastra internasional Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali.