Aku lahir dan tumbuh di Sumatera Barat, lalu merantau ke tempat-tempat yang sebelumnya (bahkan) tidak pernah terdengar di dalam kelas. Nabire, Manokwari, Waropen, Dobo, Tual, Saumlaki, dan banyak lagi. Namun, di manapun berada, aku justru lebih sering mendurhakai pepatah lama: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Di manapun berada, aku lebih sering melihat dari sudut pandang Orang Padang, dan berpikir seperti kebanyakan orang Minang. Bahkan, ketika berbicara dalam bahasa Indonesia pun, dialek Minangkabau secara tak sadar masih terbawa. Barangkali, ketidaksadaran seperti itulah yang turut mempengaruhi karya-karyaku. Delapan cerita pendek yang terinspirasi dari isu-isu di Ranah Minang dan kehidupan masyarakat di Minangkabau itulah yang kemudian membawaku bersama 15 penulis lainnya ke Ubud Writers and Readers Festival 2016. Dengan judul ‘Lagi, Dua Penulis Sumbar Terbang ke Ubud’, Harian Haluan berhasil mengabarkannya dengan bahasa yang lebih menarik. BACA DI SINI >